apa-itu-resistor

Apa itu Resistor : Jenis, Fungsi, Cara Kerja dan Simbolnya

Apa itu Resistor? Resistor adalah jenis komponen elektronika yang paling umum digunakan dalam rangkaian dan perangkat elektronik. Alat elektronik yang menggunakan resistor yaitu pemanas listrik (heater),  Oven listrik dan panggangan roti. Itu semua menggunakan resistor untuk mengubah arus menjadi panas.

Resistor juga memiliki aplikasi pada perangkat listrik seperti komputer dan ponsel untuk meredam sinyal listrik yang tidak diinginkan. Ini kontra-intuitif, tetapi meskipun energi dihamburkan dengan resistensi, resistor sangat penting untuk berfungsinya elektronik dengan baik.

Mereka berfungsi untuk memastikan bahwa komponen lain tidak diberi tegangan atau arus listrik yang terlalu besar. Jika resistor mengalami keruskan maka dapat dipastikan alat – alat elektronika yang menggunakan resistor didalamnya juga akan mengalami kerusakan.

Resistor bekerja pada prinsip Hukum Ohm dan undang-undang menyatakan bahwa tegangan melintasi terminal resistor berbanding lurus dengan arus yang mengalir melalui itu.

Unit resistensi adalah ohm. Simbol OHM menunjukkan resistensi dalam sirkuit dari nama Georg Ohm – seorang ahli fisika Jerman yang menemukannya. Pada artikel kali ini Kelas Elektronika akan membahas mengenai apa itu resistor, jenis resistor, fungsi dan cara kerja resistor berikut simbol resistor.

Apa itu Resistor?

resistor-adalah

Resistor sebagai salah satunya komponen yang tersering diketemukan dalam Rangkaian Elektronika. Nyaris tiap perlengkapan Elektronika memakainya.

Pada intinya Resistor adalah komponen elektronika Pasif yang mempunyai nilai resistansi atau hambatan tertentu yang berperan untuk membatasi dan mengatur arus listrik pada suatu rangkaian Elektronika. Resistor atau dengan bahasa Indonesia kerap disebutkan dengan Hambatan atau Tahanan dan umumnya dipersingkat dengan Huruf “R”.

Satuan resistor adalah ohm (Ω) dan dapat diukur menggunakan AVO Meter atau Multi Tester

Bagaimana Cara Kerja Resistor?

Resistor dalam sirkuit akan mengurangi arus dengan jumlah yang tepat. Jika Kamu melihat resistor dari luar, mereka kemungkinan besar terlihat sama.

Namun, jika Kamu membukanya, Kamu akan melihat batang keramik isolasi yang mengalir di tengah dengan kawat tembaga melilit di luar.

Resistensi tergantung pada putaran tembaga itu. Semakin tipis tembaga, semakin tinggi resistansi karena lebih sulit bagi elektron untuk melewatinya.

Seperti yang telah kami temukan, lebih mudah bagi elektron mengalir di beberapa bahan konduktor daripada isolator.

George Ohm mempelajari hubungan antara resistansi dan ukuran bahan yang digunakan untuk membuat resistor.

Dia membuktikan bahwa resistance (R) dari suatu material meningkat karena panjangnya meningkat.

Ini berarti bahwa kabel yang lebih panjang dan lebih tipis memberikan lebih banyak resistensi. Di sisi lain, resistensi berkurang ketika ketebalan kabel meningkat.

Setelah mengatakan itu, Georg Ohm muncul dengan persamaan yang menjelaskan hubungan ini:

cara-kerja-resistor

Catatan: Konduktor memiliki resistivitas yang jauh lebih rendah daripada isolator. Pada suhu kamar, aluminium datang sekitar 2,8 x 10-8 -Ωm, sementara tembaga secara signifikan lebih rendah pada 1,7 x 10-8 Ω-m. Silicon memiliki resistivitas sekitar 1000 Ωm dan langkah-langkah kaca sekitar 1012 Ω-m. Resistivitas bervariasi untuk bahan yang berbeda.

Jenis Resistor

jenis-jenis-resistor

Pada umumnya Resistor dapat diklasifikasikan menjadi beberapa jenis, diantaranya adalah

  1. Fixed Resistor
  2. Variable Resistor
  3. Thermistor
  4. Light Dependent Resistor

Fixed Resistor

Fixed Resistor adalah jenis Resistor yang mempunyai nilai resistansinya tetap. Nilai Resistansi atau Hambatan Resistor ini umumnya diikuti dengan kode warna atau kode Angka. Yang termasuk dalam Kategori Fixed Resistor berdasar Komposisi bahan pembuatnya antara lain adalah :

1. Carbon Composition Resistor (Resistor Komposisi Karbon)

resistor-komposisi-karbon

Resistor jenis Carbon Composistion ini dibuat dari komposisi karbon halus yang digabung berbahan isolasi bubuk sebagai pengikatnya (binder) supaya memperoleh nilai resistansi yang diharapkan.

Makin banyak bahan karbonnya makin rendah juga nilai resistansi atau nilai hambatannya. Nilai Resistansi yang kerap ditemui di pasar untuk Resistor jenis Carbon Composistion Resistor ini umumnya sekitar dari 1Ω sampai 200MΩ dengan daya 1/10W sampai 2W.

2. Carbon Film Resistor (Resistor Film Karbon)

resistor-film-karbon

Resistor Jenis Carbon Film ini terdiri dalam filem tipis karbon yang diendapkan Subtrat isolator yang dipotong berupa spiral. Nilai resistansinya bergantung pada pembagian karbon dan isolator.

Makin banyak bahan karbonnya makin rendah juga nilai resistansinya. Keuntungan dari resistor film karbon adalah ini ialah bisa menghasilkan resistor dengan toleransi yang lebih rendah dan rendahnya kesensitifan pada suhu bila dibanding dnegan Carbon Composition Resistor.

Nilai Resistansi Carbon Film Resistor yang ada di pasaran umumnya sekitar antara 1Ω sampai 10MΩ dengan daya 1/6W sampai 5W. Karena rendahnya kesensitifan pada temperatur, Carbon Film Resistor bisa bekerja pada suhu yang sekitar dari -55°C sampai 155°C.

3. Metal Film Resistor (Resistor Film Logam)

Metal-Film-Resistor

Metal Film Resistor adalah jenis Resistor yang dilapis dengan Film logam yang tipis ke Subtrat Keramik dan dipotong berupa spiral. Nilai Resistansinya dikuasai oleh panjang, lebar dan ketebalan spiral logam.

Keseluruhannya, Resistor jenis Metal Film ini sebagai yang terbaik antara beberapa jenis Resistor yang ada (Carbon Composition Resistor dan Carbon Film Resistor).

Variable Resistor

Variable Resistor adalah jenis Resistor yang nilai resistansinya bisa berubah dan diatur sesuai kemauan. Umumnya Variable Resistor terbagi menjadi 3 jenis yaitu:

  1. Potensiometer
  2. Rheostat
  3. Trimpot.

1. Potensiometer

macam-macam-potensiometer

Potensiometer adalah jenis Variable Resistor yang nilai resistansinya bisa berubah-ubah dengan memutar porosnya lewat sebuah Tuas yang ada pada Potensiometer. Nilai Resistansi Potensiometer umumnya tercatat di badan Potensiometer dalam bentuk kode angka.

Potensiometer terderi dari tiga elemen utama yaitu:

  1. Penyapu atau disebutkan dengan Wiper
  2. Element Resistif
  3. Terminal

Berdasarkan bentuknya, Potensiometer dapat dibagi menjadi 3 yaitu:

  1. Potensiometer Slider
  2. Potensiometer Rotary
  3. Potensiometer Trimmer

Prinsip kerja Potensiometer (POT) terbagi dalam sebuah elemen resistif yang membuat jalur (track) dengan terminal di kedua ujungnya. Dan terminal yang lain (umumnya ada di tengah) adalah Penyapu (Wiper) yang dipakai untuk menentukan pergerakan pada jalur elemen resistif (Resistive).

Pergerakan Penyapu (Wiper) pada Lajur Komponen Resistif berikut yang mengatur turun-naiknya Nilai Resistansi sebuah Potensiometer. Elemen Resistif pada Potensiometer biasanya dibuat dari bahan campuran Metal (logam) dan Keramik atau Bahan Karbon.

Berdasarkan jalur elemen resistif-nya, Potensiometer bisa dikelompokkan menjadi 2 jenis yakni Potensiometer Linear (Linear Potentiometer) dan Potensiometer Logaritmik (Logarithmic Potentiometer).

Dengan kemampuan yang bisa mengubah resistansi atau hambatan, Potensiometer kerap dipakai dalam rangkaian atau peralatan Elektronika dengan beberapa fungsi seperti berikut :

  • Aplikasi Switch TRIAC
  • Sebagai Pembagi Tegangan
  • Sebagai Pengendali Level Sinyal
  • Digunakan sebagai Joystick pada Tranduser
  • Sebagai Pengatur Tegangan pada Rangkaian Power Supply
  • Sebagai pengatur Volume pada berbagai peralatan Audio/Video seperti Amplifier, Tape Mobil, DVD Player

2. Rheostat

Rheostat-adalah

Rheostat adalah jenis Variable Resistor yang bisa bekerja pada Tegangan dan Arus yang tinggi. Rheostat dibuat dari lilitan kawat resistif dan pengaturan Nilai Resistansi dilakukan dengan penyapu yang bergerak dalam sisi atas Toroid.

Berdasarkan tipenya, Rheostat dibagi menjadi tiga tipe yaitu:

  1. Rheostat Rotary
  2. Rheostat Slide
  3. Rheostat Trimmer

3. Trimpot

trimpot-adalah

Preset Resistor atau sering juga disebut dengan Trimpot (Trimmer Potensiometer) adalah jenis Variable Resistor yang berfungsi seperti Potensiometer tetapi memiliki ukuran yang lebih kecil dan tidak memiliki Tuas. Untuk mengatur nilai resistansinya, dibutuhkan alat bantu seperti Obeng kecil untuk dapat memutar porosnya. 

Thermistor

Thermistor adalah jenis Resistor yang nilai resistansi atau nilai hambatannya dipengaruhi oleh Suhu (Temperature). Thermistor merupakan singkatan dari “Thermal Resistor” yang berarti Tahanan (Resistor) yang berhubungan dengan Panas (Thermal).

Berdasarkan jenisnya, Thermistor dibagi menjadi dua jenis yaitu:

  1. Thermistor NTC (Negative Temperature Coefficient)
  2. Thermistor PTC (Positive Temperature Coefficient)

Karaktreristik Thermistor NTC dan PTC

Contoh perubahaan Nilai Resistansi Thermistor NTC saat berlangsungnya perubahan suhu disekelilingnya (dikutip dari Data Sheet salah satunya Produsen Thermistor MURATA Part No. NXFT15XH103), Thermistor NTC itu bernilai 10kΩ pada suhu ruang (25°C), tapi akan berbeda seiring perubahan suhu disekelilingnya.

Pada -40°C nilai resistansinya bisa menjadi 197.388kΩ, saat kondisi suhu di 0°C nilai resistansi NTC akan turun jadi 27.445kΩ, pada suhu 100°C bisa menjadi 0.976kΩ dan pada suhu 125°C akan turun jadi 0.532kΩ.

Light Dependent Resistor (LDR)

Light Dependent Resistor atau disingkat dengan LDR adalah jenis Resistor yang nilai hambatan atau nilai resistansinya bergantung pada intensitas cahaya yang diterimanya.

Nilai Hambatan LDR akan jadi menurun ketika cahaya terang dan nilai Hambatannya bisa menjadi tinggi apabila dalam kondisi gelap. Dengan kata lain, fungsi LDR (Light Dependent Resistor) adalah untuk menghantarkan arus listrik apabila menerima sejumlah intensitas cahaya (Kondisi Terang) dan menghambat arus listrik dalam kondisi gelap.

Fungsi Resistor

Fungsi Resistor di dalam Rangkaian Elektronika diantaranya adalah sebagai berikut :

  1. Sebagai Pengatur Arus listrik
  2. Sebagai Pembagi Tegangan listrik
  3. Sebagai Pembatas Arus listrik
  4. Sebagai Penurun Tegangan listrik

Kode Warna Resistor

Cara yang dipakai untuk membaca nilai resistansi (Ohm) pada resistor dengan melihat tabel kode warna resistor.

Pada dasarnya cara membaca kode warna resistor ini sangat gampang asal kita mengetahui dari setiap nilai dari warna gelang tersebut. Untuk memudahkan membaca kode warna tersebut dibuatlah sebuah tabel nilai resistor.

Menurut pembacaan kode warnanya resistor ini dibagi jadi 3 jenis yaitu:

  1. Kode Warna Resistor 4 Gelang
  2. Kode Warna Resistor 5 Gelang
  3. Kode Warna Resistor 6 Gelang

Pertanyaan Seputar Resistor

Sekian ulasan tentang apa itu resistor, jenis resistor, fungsi dan cara kerja resistor berikut simbol resistor. Semoga bermanfaat. Kelas Elektronika adalah tempat belajar elektronika terlengkap di Indonesia.